readbud - get paid to read and rate articles
Tampilkan postingan dengan label Tourism Objects in Tana Toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tourism Objects in Tana Toraja. Tampilkan semua postingan

12 Desember 2010

Aluk Todolo, Kepercayaan Kepada Leluhur Masyarakat Toraja

Tak ada aturan tertulis mengenai Aluk Todolo, kepercayaan kepada leluhur warga Dusun Kanan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kepercayaan mereka diturunkan secara lisan, turun-temurun, dan mengikat kehidupan sehari-hari. Namun, warga mematuhi aturan itu dan rela menjalani hukuman jika ketahuan melanggar Penganut Aluk Todolo wajib menyembah dan memuliakan leluhurnya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual.

"Penganut Aluk Todolo relatif terbuka terhadap modernisasi dan dunia luar. Mereka meyakini, aturan yang dibuat leluhurnya akan memberikan rasa aman, mendamaikan, menyejahterakan, serta memberi kemakmuran warga," kata Musni Lampe, pengajar antropologi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Walau terbuka bagi agama luar, warga sepakat, yang telah menganut selain Aluk Todolo wajib keluar dari Dusun Kanan. Tentu saja mereka tetap boleh berkunjung ke sana, tapi tak dapat tinggal lama.

Di luar penganut Aluk Todolo, sekalipun bangsawan dan memiliki banyak uang, mereka tidak boleh dikuburkan dengan ritual pa'tomate, upacara penguburan jenazah khas dusun itu. Penganut Aluk Todolo menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Mereka begitu tegas menerapkan aturan leluhur. Berani melanggar berarti bakal menyengsarakan warga dusun, misalnya mendatangkan petaka gagal panen. Semua kesalahan dan kecurangan berhadapan dengan hukum dan hal itu berlaku bagi semua, termasuk keluarga dekat, saudara jauh, atau pendatang.


Penegakan aturan itu begitu ketat dalam pelaksanaan pa'tomate. Selama berlangsungnya pa'tomate Uyung Kariwangan, generasi terakhir parenge (bangsawan) Pana asli Dusun Kanan, warga tidak boleh berhura-hura, seperti berjudi dan bermain kartu. Jika ketahuan, mereka harus membayar denda berupa babi atau uang senilai harga babi. Itu terjadi saat pa'tomate berlangsung baru-baru ini. Empat pria tertangkap tangan bermain kartu dan mereka diwajibkan membayar denda tujuh babi.

Selama jenazah belum dikuburkan, seluruh keluarga, warga dusun, dan pelaku ritual tidak boleh makan nasi beras sebagai tanda ikut berdukacita atas kepergian orang yang dikasihi. Mereka hanya boleh memakan nasi jagung. Mereka baru akan makan nasi beras lagi jika ritual pa'tomate berakhir, sehari seusai upacara penguburan.

Aturan lainnya, selama prosesi pembungkusan jenazah, mereka yang tinggal di rumah almarhum tidak boleh memasak semua jenis sayuran. Jika dilanggar, jenazah akan membusuk dan baunya melekat. Bahkan, selama proses itu berlangsung, tidak ada seorang pun yang boleh meludah di dekat jenazah. Jika melanggar, kekuatan mistik untuk mengawetkan jenazah guna mencegah busuk akan hilang. Mereka yang nekat melanggar akan sakit. Setelah mayat dikuburkan, mereka yang mengikuti proses pemakaman ke liang lahad wajib kembali ke rumah duka sebelum pulang ke rumah masing-masing. Yang melanggar akan mendapat kecelakaan dalam perjalanan. Untuk menghindari pelanggaran, berulang-ulang aturan itu diumumkan hingga sebelum jenazah diberangkatkan ke makam. Jika ada warga yang lupa dengan aturan tersebut, dia harus segera didoakan sesepuh pemimpin prosesi ritual.

Secara geografis, Dusun Kanan berada di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Daerahnya cantik, bergunung, berbukit, dengan lembah nan hijau. Lokasinya 163 kilometer dari Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat, 83 kilometer dari Polewali Mandar, atau 328 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan.

 Malam hari, suhu di daerah yang berpenduduk 80 orang itu ini 12-17 derajat celsius. Itu sebabnya penduduk senang membungkus tubuhnya dengan sambu, sarung asal Simbuang. Meski Dusun Kanan menawan, transportasi ke sana sulit. Untuk mencapai kawasan itu pun hanya ada jalan kecil, berkelok, dan licin. Di kanan-kiri jalan jurang menganga. Kompas terpaksa menyewa ojek motor Rp 120.000 untuk jarak 11 kilometer menuju Dusun Kanan. Secara administratif, Dusun Kanan berada di Kecamatan Simbuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Namun, adat istiadatnya lebih banyak mendapat pengaruh kebudayaan Mamasa (dulu Toraja Barat).

Aluk Todolo adalah kepercayaan masyarakat Mamasa sebelum agama samawi masuk ke daerah itu. Aluk berarti 'aturan', todolo berarti 'nenek moyang'. Andai warga Indonesia lainnya mau meniru kepatuhan warga Dusun Kanan, mungkin negeri ini akan menjadi lebih baik. Semua penduduk setara di mata hukum.

Oleh Pinkan Elita Dundu
Sumber : kompas.com
Read More

09 November 2010

Tourism Objects Tampang Allo

A brief history of tourism objects Tampang Allo (or Tampangallo) This is a natural grotto grave is located in Kelurahan Kecamatan Kaero Sangalla’ and contains dozens erong (large coffin shaped like a buffalo and pigs), dozens of tau-tau (the statues) and hundreds skulls and human bones. At about the 16th century by the rulers Sangalla’ in this case the Puang Manturino with his wife Rangga Bulaan choose Cave Tampang Allo as a place of his burial later if they died.

Thus Rangga Bulaan beautiful girl who was raised by apes, died first and his body put into Erong and placed in a cave TampangAllo. While the Puang Manturino died when inserted into Erong and placed on the funeral Losso’ is located not far from TampangAllo. Somehow then Erong The Puang was empty. While the body has been united with his wife's body in TampangAllo. Long after the Puang and his wife died Bulaan Rangga royal heirloom called Bakasiroe’ taken over by Puang musu' as ruler Tongkonan Puang Kalosi.

At that time, Tana Toraja also known as “Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo” was in chaos due to attacks from the kingdom of Bone. War also occurred between the regional / local communities and the army helped Bone and consequently one who lost the battle fields and wealth confiscated and taken prisoner to Madan and the Bugis area.

Puang musu’ bring heirloom Baka Siroe' fled to Madan and when it crossed the river Puang Sa'dan and of then Karasiak killed "Puang musu" and take out Baka Siroe'. Descendants Puang musu’ always trying in any way to restore the heritage BakaSiroe' into place. in 1934, there was peace between the descendants Puang musu 'with Karasiak descendants through marriage.

With the birth of the offspring of the marriage Puang musu’ with Karasiak, the Heritage Baka Siroe' given to the child for Storing and maintenance. Likewise, their burial place agreed later in the Cave Tampang Allo As a manifestation of the covenant and oath of husband and wife are "always together for life, a both of us grave”.
Read More

12 Agustus 2010

Tongkonan, Rumah Adat Toraja yang Berusia 700 Tahun

Tongkonan, Rumah Adat Toraja yang Berusia 700 Tahun
Bertamu, Ketuk Pintu Dulu Pakai Kepala

Sebut Tana Toraja, orang akan membayangkan rumah adatnya yang unik. Orang Toraja menyebutnya tongkonan. Keunikan tongkonan itulah, salah satu, yang menarik wisatawan berkunjung ke kabupaten di Sulawesi Selatan tersebut.

Laporan KASMAN, Makale
---
Untuk menuju Tana Toraja, pelancong bisa menggunakan pesawat terbang tujuan Makassar. Dari Jakarta, diperlukan dua jam perjalanan ke ibu kota Sulsel itu.

Setiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, perjalanan menuju Tana Toraja bisa dilakukan dengan bus. Sebetulnya, kita bisa juga menggunakan pesawat terbang ke Bandara Pongtiku di Toraja. Hanya perlu 40 menit penerbangan dari Bandara Sultan Hasanuddin ke Bandara Pongtiku.

Problemnya, penerbangan Makassar-Tana Toraja itu hanya tersedia sekali dalam sepekan dengan pesawat jenis Cassa. Bila menggunakan bus, perjalanan dari Makassar ke Makale, ibu kota Tana Toraja, membutuhkan waktu sekitar delapan jam melintasi jalur berbukit-bukit.

Di Kota Makale, tongkonan asli tidak mudah ditemukan. Untuk melihat tongkonan dengan bentuk dan bahan aslinya, kita harus pergi ke luar kota. Beberapa daerah di Toraja masih memiliki tongkonan yang indah. Namun, yang paling diminati wisatawan adalah tongkonan palawa dan tongkonan atap batu.

Tongkonan atap batu terletak di Desa Banga', Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja. Dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, kita harus menempuh perjalanan 10 kilometer ke arah barat. Tapi, tidak perlu khawatir. Jalan menuju Desa Banga' cukup mulus.

Sekilas, tongkonan yang disakralkan warga itu tampak biasa-biasa saja. Ukurannya 3 x 10 meter, tidak terlalu luas untuk sebuah tongkonan. Namun, ada beberapa hal pada bangunan yang diyakini berusia 700 tahun itu yang tidak akan ditemukan pada tongkonan lain. Karena keunikannya, Pemkab Tana Toraja melalui pemerintah pusat mengusulkan tongkonan tersebut masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO.

Seperti sebutannya, salah satu keunikannya terletak pada atap yang terbuat dari batu pahatan berbentuk segi empat. Tebal tiap batu atap itu 5 sentimeter dengan lebar tiga jengkal orang dewasa.

Di ujung batu atap tersebut ada dua lubang kecil di sisi kiri dan kanan. Fungsinya, untuk mengikatkan tali rotan yang dilengketkan ke balok kerangka atap. Puncak atap, tempat pertemuan atap sisi kiri dan kanan, ditutup pecahan bambu agar air hujan tidak merembes ke dalam tongkonan.

Jumlah batu yang digunakan sebagai atap tongkonan itu lebih dari seribu. Berat tiap batu atap itu rata-rata 10 kilogram. Berarti, beban atap tongkonan tersebut sekitar 10 ton.

Atap dan badan tongkonan itu ditopang 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai tongkonan terbuat dari papan dan dindingnya berupa kayu berukir.

Pada tiang depan tongkonan tampak berjajar ratusan tanduk kerbau yang dipotong tiap penghuni tongkonan itu menyelenggarakan pesta adat. Pintu masuknya hanya satu, terletak di bagian tengah sisi kanan bangunan. Untuk masuk ke tongkonan itu, kita harus melewati tangga yang juga terbuat dari kayu.

Tertarik melihat bagian dalam tongkonan? Bisa. Cukup mengetuk pintu tiga kali, siapa saja boleh masuk. Ah, biasa. Di mana-mana, yang namanya tamu memang mesti mengetuk pintu dulu, kan?

Tunggu dulu. Sebab, justru itulah salah satu keunikan tongkonan tua tersebut. Kita tidak boleh mengetuk pintu dengan tangan. Harus pakai kepala. "Kalau tidak mengikuti aturan itu, pengunjung biasanya mengalami kecelakaan saat pulang. Bahkan, ada pengunjung yang jatuh sakit karena masuk rumah tanpa permisi," tutur Dorkas, pemilik tongkonan kuno tersebut.

Saat ini tongkonan itu dihuni Ne' Toyang, janda berusia 110 tahun. Ne' Toyang menghuni tongkonan itu bersama putri ketiganya, Dorkas. "Bapak saya bernama Sara', sudah meninggal. Sekarang tinggal Ibu (Ne' Toyang) dan cucu-cucu. Jumlahnya 140 orang," tutur Dorkas.

Menurut dia, Nenek Toyang yang kini menghuni tongkonan itu adalah turunan kesepuluh dari penghuni pertama. Menurut cerita turun-temurun, yang pertama membuat dan menghuni tongkonan itu adalah nenek Buntu Batu.

"Ibu saya yang sekarang menghuni tongkonan ini sudah turunan kesepuluh. Usia ibu saya 110 tahun. Turunan kedua hingga kesembilan kami lupa namanya. Ibu saya hanya bilang bahwa tongkonan ini berusia 700 tahun lebih," papar Dorkas.

Saat akan masuk ke tongkonan itu, penulis juga diharuskan mengetuk pintu dengan kepala. "Tidak usah keras-keras, nanti sakit. Yang penting ada suaranya," kata Dorkas.

Di dalam tongkonan itu ada kamar persis di sebelah kanan pintu. Di kamar itu Dorkas meminta izin, entah kepada siapa, agar direstui meninjau situasi dalam tongkonan.

Rupanya, keluarga pemilik tongkonan tersebut yakin bahwa tongkonan itu masih dihuni leluhur meski tidak menampakkan diri. "Kalau ada tamu yang langsung naik tanpa permisi, biasa sakit saat pulang," katanya.

Tongkonan itu punya empat kamar dan satu ruang tamu. Namun, di kamar-kamar tersebut tidak ada kasur atau ranjang.

Bagaimana dengan atapnya? Dorkas yang kelahiran 1948 itu menyatakan, sejak dibangun sekitar 700 tahun silam, tongkonan tersebut baru dua kali ganti atap. Pergantian pertama hanya di beberapa titik. Saat itu ada tali rotan pengikat atap yang terputus. "Pergantian kedua dilakukan saat Tana Toraja dilanda gempa bumi. Tapi, saya lupa tahun berapa kejadiannya. Menurut kakek, sebagian besar atap jatuh karena gempa tersebut," katanya.


Read More

11 Agustus 2010

Keunikan Warisan Dunia Toraja Ditampilkan pada Festival Budaya

Kompas.com - Wisatawan yang berkunjung untuk menyaksikan potensi seni budaya dan keindahan alam Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, dapat potongan menginap hingga 50 persen. Selain itu pemerintah daerah setempat juga menggelar Festival Budaya dan Lovely December 2009 , yang puncak pelaksanaannya berlangsung pada tanggal 26 Desember 2009 di Rantepao.  

Bahkan, khusus wartawan, yang ingin melakukan peliputan di Toraja, pihak panitia dan pemerintah setempat, bekerjasama dengan pihak maskapai penerbangan dan pelaku wisata, memberikan fasilitas gratis dan berbagai kemudahan lain. Cara itu ditempuh untuk mengembalikan citra pariwisata Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama Indonesia.
Kenyataan itu diungkapkan Sekda Kabupaten Toraja Utara Lewaran Rantelabi, Direktur Eksekutif Prima Vijaya Indah Tours, Nico B Pasaka, dan didukung Departemen Kebudayaan dan Pariwisara RI, pada jumpa pers, Selasa (8/12) di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jakarta.

Karena dampak krisis ekonomi maupun aksi kerusuhan Poso, pariwisata Toraja yang pernah berjaya di era awal tahun 1990-an, menjadi pudar. Dan dengan telah terbentuknya daerah otonomi Kabupaten Toraja Utara yang berusia satu tahun, 26 November 2009, diharapkan industri pariwisata Toraja kembali bersinar, menjadi daerah tujuan wisata utama di Indonesia, kata Lewaran Rantelabi.

Lewaran menjelaskan, Festival Budaya dan Lovely December 2009 dijadikan titik awal untuk menarik kunjungan wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara lebih banyak lagi ke Toraja. Agenda pariwisata berskala internasional ini dijadikan sebagai sarana untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing sektor pariwiwsata serta mendukung suksesnya program tahun kunjungan ke Indonesia.

Nico B Pasaka optimistis, wisatawan ke Toraja dan Indonesia timur umumnya, akan semakin meningkat, menyusul akan dibukanya jalur penerbangan ke Eropa oleh Garuda Indonesia. Ada 218 tour operator Eropa yang menjual Toraja. Untuk itu, pemerintah dan pelaku wisata sudah mulai berbenah kembali. Sapta Pesona kembali dicanangkan, agar masyarakat memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan, katanya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, mengatakan, dengan pulihnya situasi keamanan pascakerusuhan Poso, Sulawesi Tengah, serta mulai membaiknya kondisi ekonomi global saat ini, diyakini akan mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara ke Toraja.

Destinasi Toraja memiliki keunikan budaya yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini. Toraja pernah menjadi daerah tujuan wisata favorit bagi wisatawan Eropa. Melalui Festival Budaya kita ingin mengangkat kembali daya tarik Toraja sehingga banyak di kunjungi wisatawan, katanya.

Staf Ahli Menbudpar, Titin Sukarya menambahkan, keunikan Toraja merupakan keunikan dan kekayaan budaya dunia. Karena itu, Depbudpar sudah mengajukan Toraja ke Unesco untuk dapat pengakuan sebagai warisan dunia. Tentantive list sudah didapat, tinggal melengkapi criteria-kriteria yang ditetapkan Unesco, tandasnya.
Read More